Janji Hujan

Malam ini, aku kembali duduk di tepi jendela. Menikmati angin dan dingin. Sedang hujan rupanya. Aku mengigil.

Hujan. Air yang turun dari langit ini disebut hujan. Mereka ramai tapi membuatku sepi. Sungguh sepi. Sangat sepi.

Hujan tidak pernah berhenti di tengah dan menghampiriku, sekedar menemani. Mereka langsung jatuh menuju bumi dan berkumpul dengan genangan.

Mereka sombong. Ya, hujan yang sombong. Aku tahu mereka melihatku sedang sendiri dari langit. Tapi, mengapa mereka tak pernah menyapaku?

Aku menengadahkan kepalaku ke langit. Memandang gelapnya awan. Oh.. Aku tahu alasannya.

Hujan tidak suka dengan tempat yang gelap. Mereka tidak suka berlama-lama berkumpul di dalam awan yang gelap. Mereka benci gelap.

Itulah alasan mengapa mereka selalu bergegas menghantam bumi. Ya, mereka mencintai bumi. Karena dari sana mereka berawal.

Aku juga tidak suka dengan tempat yang gelap. Tapi aku harus kemana? Aku tak tahu kemana harus mencinta. Dari mana aku berawal?

Tanah? Ya. Aku berasal dari tanah tapi aku tak mencintainya. Tidak sama seperti tetesan hujan itu. Aku belum punya rencana kembali ke tanah.

Aku harap aku bisa menjadi hujan. Walaupun aku tak mencintai tanah, setidaknya aku tak sendirian. Aku bosan.

Aku berbisik pada hujan,”Hey! Bawa aku bersama kalian.” Tak ku dengar balasan. Mereka berisik sekali, entah apa saja yang mereka bicarakan.

Ya, seharusnya aku sadar. Mereka tak punya waktu untuk membalas perkataanku. Andaikan ada yang mau menjawab, mereka terhisap oleh gravitasi.

Aku sedih. Haruskah aku tetap sendiri di sini? Aku ingin berteriak! Tapi aku takut petirlah yang menjawab. Aku belum siap kembali ke tanah.

Aku tahu. Aku terbawa suasana. Ini tidak baik untukku. Ini salah hujan! aku benci hujan! Aku tak mau jadi hujan lagi. Biarkan aku sendiri.

Aku turun dari tepi jendela lalu mengambil tempatku di sudut kamar. Tempat ini cukup nyaman untuk menyendiri, menurutku. Dan.. hangat!

Di sudut ini aku bisa melupakan hujan. Melupakan suaranya. Melupakan dinginnya. Melupakan awalnya. Melupakan tujuannya. Melupakan segalanya.

Brak!! Angin menghempas daun jendela yang lupa ku tutup. Ada-ada saja ulah angin. Aku berdiri, hendak menutupnya. Tapi apa yang kurasa?

Aku merasakan sejuk. Angin juga mengenalkanku dengan hujan. Dia membawa beberapa tetes hujan masuk ke kamarku. “Kau tak sendiri.” kata angin.

Angin menyadarkanku. Aku tak sendiri. Hujan ada memang untuk menemaniku. Karena itu mereka belum berhenti. Mereka menungguku terlelap.

Hujan tidak berisik. Tapi, mereka bernyanyi. Seharusnya aku sadar dengan itu. Mereka juga menyukaiku, karena itu mereka turun.

Mereka berjanji, selama musim hujan ini, mereka tidak akan membiarkan aku sendiri. Mereka akan terus bernyanyi di malam hari. Saat aku sepi.

Mereka berjanji mereka akan datang lagi. Mereka akan sering menemuiku. Menemaniku. Mereka hanya butuh waktu. Siklus.

Sebelum berhenti, mereka berpesan, “Jika kami datang lagi, maukah kau menari bersama kami? Akan lebih menyenangkan saat kami bernyanyi.”

Aku tersenyum. Menutup jendela dan berkata. Terima kasih.. Hujan.

***

Advertisements

Published by

elmover

Tentang saya? Bagaimana kalau kita bicarakan tentang kamu sambil minum kopi, setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s