Kepala Botak

aku berada di kantor. tidak, aku tidak sedang bekerja, aku memang tinggal di sini. kau tahu? aku sedang di batas jendela lantai 3.

angin di sini cukup kencang. aku melempar kertas. tertiup dan tersangkut di atap rumah tetangga. aku pikir aku bisa seperti kertas itu.

tubuhku tak begitu berat. mungkin tak lebih berat daripada kertas yang ku buang tadi. mungkin aku bisa menikmati rasanya diterjang angin.

ah! aku tahu! mungkin aku bisa mengintip isi ruangan rumah itu dari atap. aku selalu penasaran dengan apa yang di dalamnya. misterius.

apa ku bilang tadi? misterius? ah, tidak juga. itu hanya perasaanku saja. mungkin karena aku kerap melihat kulit botak muncul di tepi ruang.

aku mengalihkan pandangan. tak peduli lagi dengan kertas di atas atap itu. cahaya terang beberapa kali menyilaukanku. itu mobil.

mobil? apa yang bisa aku pikirkan? yang berhubungan dengan mobil? ah! aku tahu! aku sering lihat kulit botak juga dari mobil-mobil itu.

kulit botak lagi? kenapa aku terus saja teringat dengan kulit botak? kulit botak? apa itu kulit botak? seperti pantat monyetkah?

ah! baru saja aku hampir terjatuh. tak sengaja ku lirik atap rumah itu dan ku temukan kulit botak itu. tidak, tidak mirip pantat monyet.

aku penasaran. apa sebenarnya yang aku lihat itu? kacamata yang kugunakan juga tak bisa menjelaskan. aku akan menunggu siang, pikirku.

angin bertambah kencang. membuyarkan pikirku tentang kulit botak itu. ku lihat anak kecil berlarian di bawah. heran. masih siangkah ini?

mereka botak! aha! aku tahu! yang ku lihat dari atap itu adalah kepala anak-anak ini! tapi, mereka di luar dan siapa yang ada di rumah itu?

baiklah, ku beri tahu, kulit botak itu ada 2. mereka selalu bersama. sedari tadi terus terlihat di tepi ruang. menikmati angin juga, mungkin.

hei! apa itu! ada tangan! merangkul kulit botak itu. benar, pikirku. itu bukan pantat monyet, bukan pula kepala bocah-bocah berisik itu.

aku harus meyakinkan diriku. ku beranikan diri turun 1 lantai, biarpun aku tahu aktifitas mistis di bawah sangatlah besar, aku harus tahu.

cukup gelap di bawah sini. aku tak bisa meraba di mana letak saklar. tapi aku lihat sedikit cahaya dari nako. aku bisa mengintip, pikirku.

 

………………………………………………………………………………………………….maaf, aku tak bisa berkata.

 

seharusnya aku sudah yakin, tak perlu turun ke sini untuk memastikannya. aku naik lagi, mencoba melupakan yang aku lihat barusan. tak bisa! 

aku menyalahkan anak-anak berisik itu. oh, bukan. ini salah lampu mobil! hm, mungkin sebaiknya aku menyalahkan kertas yang ku buang tadi.

tenang. tak perlu penasaran. yang ku lihat tadi hanyalah proses pabrikasi calon-calon bocah berisik. ya, kulit botaklah pabriknya. ck.

 

***

Advertisements

Published by

elmover

Tentang saya? Bagaimana kalau kita bicarakan tentang kamu sambil minum kopi, setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s