Perpindahan Dalam Hidup

quote

That’s a great thought from Raditya Dika.

Begini… gue mau menceritakan sedikit mengenai kehidupan gue yang gue sebut “KERJA”.

Continue reading Perpindahan Dalam Hidup

Advertisements

Jembatan Tenang

Beberapa minggu terakhir ini gue harus menggunakan jasa Transjakarta untuk bepergian, terutama untuk berangkat kerja. Hal yang gue senangi dari bepergian menggunakan Transjakarta adalah saat berada di jembatan halte dan memperhatikan jalan dan kendaraan yang ada di bawah. Angin berhembus pelan dan suara kendaraan yang tak begitu keras terasa seperti menenangkan hati. Mungkin cuma gue yang merasakan ini tapi ini adalah momen gue merasa tenang dan gak memikirkan apapun kecuali menikmati pemandangan ini. Tak lama, gue langsung bergegas menuju halte untuk segera naik Transjakarta.

IMG_20141127_104602

Continue reading Jembatan Tenang

Daftar Hal yang Gue Sesali Dalam Hidup 2

Gue nyesel punya badan kerempeng. Padahal kalo badan gue bagus, bisa jadi polisi, terus bisa kali gue tiap hari bakar-bakarin barang bukti ganja. Syeedaapp~

Diambil dari Kompas.com  http://bit.ly/1v89vvz
Diambil dari Kompas.com http://bit.ly/1v89vvz

Tulisan ini gue buat dalam keadaan sadar-sesadar-sadarnya bahwa gue sedang kehabisan rokok. Rokok terasa mahal saat tanggal menunjukkan angka belasan. Kebetulan gak ada yang bisa dimintain sebatang, karena yang lain juga merasakan apa yang gue rasakan. Bagaimana caranya dapatkan rokok gratis? Gak ada! Ngutang di warung depan kantor sih palingan.

Maka daripada itu, terbesitlah penyesalan mengapa diriku tak menjadi polisi saja sejak muda. Kan enak kalo lagi acara bakar-bakarin barang bukti ganja. Obatnya, cukup bilang “Syukuri badan sehat yang Tuhan berikan”.

Daftar Hal yang Gue Sesali Dalam Hidup 1

Gue nyesel waktu sekolah dulu gak pinter-pinter banget. Kalo dulu gue pinter, kan enak.. Sekarang bisa jadi koruptor. Kaya raya deh! šŸ˜€

Diambil dariĀ Kompas.com http://bit.ly/1ue56VG

 

Tulisan ini gue buat dalam keadaan sadar-sesadar-sadarnya. Gue sadar bahwa untuk menjadi kaya raya dibutuhkan proses, kerja keras dan keberuntungan. Seiring dengan kebutuhan ekonomi gue yang meningkat, gue mulai memikirkan bagaimana caranya untuk menjadi kaya raya dalam waktu cepat dan dapat bertahan lama. Sering terbayang, gue secara gak sengaja menemukan tas berisikan uang yang banyak kemudian akan langsung gue manfaatkan untuk ini-dan-itu, dengan harapan gue bakalan kaya terus.

Tapi itulah manusia, mampu berkhayal tinggi namun belum tentu dapat berbuat banyak. Akhirnya terbesitlah penyeselan seperti yang gue sampaikan di awal tulisan. Obatnya, cukup bilang “Syukuri apa yang Tuhan berikan”.

Sudah Besar

“Kalau kamu sudah besar nanti, kamu mau jadi apa?”

Kalimat itu terus menggema di dalam otakku. Seakan pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus segera dijawab, tanpa berpikir, tanpa menunggu. Namun, aku tak bisa menjawabnya. Aku tak melihat suatu gambaran apapun di kepalaku. Lidahku terlalu kaku dan belum terlatih untuk menjawab pertanyaannya. Hanya tanganku yang dapat kugerakkan. Itupun tak dapat ia rasakan. Aku bingung. Haruskah aku menjawabnya sekarang?

Ia mulai mengelusku dan bertanya lagi, “Kalau sudah besar, kamu mau jadi seperti apa?”

Aku menunjuk ke arahnya. Aku bermaksud ingin seperti dia, yang selalu sabar menungguku, selalu baik terhadapku, selalu setia bersamaku. Aku ingin seperti dia

Iya. Dia.

Sepertinya, ia paham dengan maksudku. Ia menciumku, meskipun terhalang sesuatu. Sesuatu yang aku tak tau apa itu. Kemudian, dengan lembut ia berkata, “Aku akan terus setia menunggumu dan bersamamu.”

Tunggu saja, Papa. Tunggu satu bulan lagi, seperti yang dikatakan Mama, dan aku akan lahir ke dunia ini untuk menjadi sepertimu.

“Walau belum bertemu, aku sudah merindumu, Nak.”

Ngelem

Foto ini saya ambil sekitar 2 tahun lalu ketika sedang nongkrong bersama teman-teman kampus setelah Nite Ride dengan sepeda fixie kami masing-masing. Kami berkumpul di 711 Salemba untuk minum, melepas lelah dan menceritakan kembali pengalaman setelah berkeliling. Saat sedang asyiknya berbincang, mata saya tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang jongkok tidak jauh dari meja kami duduk. Ia jongkok dikelilingi sisa-sisa makanan dan minuman dan menutup wajahnya dengan kaos. Matanya merah dan sangat berat.

“Sob, dia lagi ngapain sih?” tanya saya kepada teman-teman, “Oh, lagi ngelem tuh, sob! Hanjir… sakaw abis tuh bocah.”

Ngelem?! Oh, jadi dia sedang menghirup udara dari kaleng aica aibon?!

Bocah ini makan dari makanan sisa yang ditinggalkan pelanggan di atas meja. Kemudian dia ngelem setelah makan? Lalu mengapa dia masih ada di jalanan di tengah malam seperti ini? Tidak berapa lama setelah saya mengamatinya, ia beranjak dari tempatnya kemudian pergi.

Tidak perlu waktu lama untuk saya kembali bercermin. Saya masih bisa nongkrong bersama teman-teman kuliah, menikmati jajanan, dan sehat berolahraga.

Saya sangat bersyukur. Sudahkah Anda bersyukur atas hidup yang dinikmati hingga saat ini?

Janji Hujan

Malam ini, aku kembali duduk di tepi jendela. Menikmati angin dan dingin. Sedang hujan rupanya. Aku mengigil.

Hujan. Air yang turun dari langit ini disebut hujan. Mereka ramai tapi membuatku sepi. Sungguh sepi. Sangat sepi.

Hujan tidak pernah berhenti di tengah dan menghampiriku, sekedar menemani. Mereka langsung jatuh menuju bumi dan berkumpul dengan genangan.

Mereka sombong. Ya, hujan yang sombong. Aku tahu mereka melihatku sedang sendiri dari langit. Tapi, mengapa mereka tak pernah menyapaku?

Aku menengadahkan kepalaku ke langit. Memandang gelapnya awan. Oh.. Aku tahu alasannya.

Hujan tidak suka dengan tempat yang gelap. Mereka tidak suka berlama-lama berkumpul di dalam awan yang gelap. Mereka benci gelap.

Itulah alasan mengapa mereka selalu bergegas menghantam bumi. Ya, mereka mencintai bumi. Karena dari sana mereka berawal.

Aku juga tidak suka dengan tempat yang gelap. Tapi aku harus kemana? Aku tak tahu kemana harus mencinta. Dari mana aku berawal?

Tanah? Ya. Aku berasal dari tanah tapi aku tak mencintainya. Tidak sama seperti tetesan hujan itu. Aku belum punya rencana kembali ke tanah.

Aku harap aku bisa menjadi hujan. Walaupun aku tak mencintai tanah, setidaknya aku tak sendirian. Aku bosan.

Aku berbisik pada hujan,”Hey! Bawa aku bersama kalian.” Tak ku dengar balasan. Mereka berisik sekali, entah apa saja yang mereka bicarakan.

Ya, seharusnya aku sadar. Mereka tak punya waktu untuk membalas perkataanku. Andaikan ada yang mau menjawab, mereka terhisap oleh gravitasi.

Aku sedih. Haruskah aku tetap sendiri di sini? Aku ingin berteriak! Tapi aku takut petirlah yang menjawab. Aku belum siap kembali ke tanah.

Aku tahu. Aku terbawa suasana. Ini tidak baik untukku. Ini salah hujan! aku benci hujan! Aku tak mau jadi hujan lagi. Biarkan aku sendiri.

Aku turun dari tepi jendela lalu mengambil tempatku di sudut kamar. Tempat ini cukup nyaman untuk menyendiri, menurutku. Dan.. hangat!

Di sudut ini aku bisa melupakan hujan. Melupakan suaranya. Melupakan dinginnya. Melupakan awalnya. Melupakan tujuannya. Melupakan segalanya.

Brak!! Angin menghempas daun jendela yang lupa ku tutup. Ada-ada saja ulah angin. Aku berdiri, hendak menutupnya. Tapi apa yang kurasa?

Aku merasakan sejuk. Angin juga mengenalkanku dengan hujan. Dia membawa beberapa tetes hujan masuk ke kamarku. “Kau tak sendiri.” kata angin.

Angin menyadarkanku. Aku tak sendiri. Hujan ada memang untuk menemaniku. Karena itu mereka belum berhenti. Mereka menungguku terlelap.

Hujan tidak berisik. Tapi, mereka bernyanyi. Seharusnya aku sadar dengan itu. Mereka juga menyukaiku, karena itu mereka turun.

Mereka berjanji, selama musim hujan ini, mereka tidak akan membiarkan aku sendiri. Mereka akan terus bernyanyi di malam hari. Saat aku sepi.

Mereka berjanji mereka akan datang lagi. Mereka akan sering menemuiku. Menemaniku. Mereka hanya butuh waktu. Siklus.

Sebelum berhenti, mereka berpesan, “Jika kami datang lagi, maukah kau menari bersama kami? Akan lebih menyenangkan saat kami bernyanyi.”

Aku tersenyum. Menutup jendela dan berkata. Terima kasih.. Hujan.

***