Salah Meja

“Kamu cantik sekali malam ini, Viona.”

Hanya ini kalimat yang diucapkan oleh Roy, malam ini. Setelah hampir satu jam kami hanya duduk diam di meja sebuah restoran mahal yang sudah dipesannya seminggu yang lalu. Entah kencan makan malam macam apa ini. Bahkan meja kami masih kosong, hanya ada tiga batang lilin yang terus menyala sejak kami duduk di sini. Tak ada makanan atau pun minuman, karena sedari tadi dia tidak memesan apa pun.

Ku perhatikan, matanya gelisah. Wajahnya terus memerah, seakan sedang memendam suatu perasaan. Dia terus melirik ke arah meja di seberang kami. Meja itu diisi oleh pasangan yang tengah menikmati makan malam juga. Mereka terlihat sungguh romantis, berbeda sekali dengan keadaan yang ada di meja ini.

“Kamu kenal dengan mereka?” tanya ku.

Roy terkejut, seakan tidak menyadari bahwa diriku sedang memperhatikannya sedari tadi.

“Hm, tidak. Aku tidak kenal dengan mereka. Kamu?”

“Tidak. Yang aku kenal di sini cuma kamu.”

“Oh, baiklah. Maaf, boleh aku ke belakang sebentar?”

Aku menggangguk. Aku bisa memaklumi rasa gugup yang dia rasakan semenjak dia menjemputku di rumah. Sejenak aku melirik meja di seberang kami yang tadi terus diperhatikan oleh Roy. Pasangan itu sama-sama berdiri, sepertinya makan malam mereka sudah usai. Tapi, si pria langsung pergi meninggalkan pasangannya. Terlihat raut wajah datar dari si wanita, sepertinya dia kecewa dengan momen romantis yang baru saja dilaluinya. Wanita itu meninggalkan mejanya, lalu berjalan menuju mejaku, menghampiriku.

“Aku tidak tahan lagi, sayang! Ayo kita pulang!”

Ya, sebenarnya aku kenal dengan wanita ini. Namanya Ratna. Dia adalah kekasihku. Kami bergegas meninggalkan restoran itu, menuju lapangan parkir. Tepat di belakang mobil Ratna adalah mobil Roy. Aku senang, akhirnya Roy menikmati momen romantis di dalam mobil, bersama teman kencannya Ratna.

***

Advertisements

Dia Tertinggal

“Di sini sempit!”

Teriakan yang sama yang kami lontarkan setiap waktu. Ya, kami. Aku dan dia. Kami sudah bersama sejak beberapa waktu yang lalu. Ketika kami adalah banyak. Banyak! Aku tak bisa menghitungnya. Yang jelas saat itu adalah saat di mana kami berdesak-desakan dan terus terdorong menuju sebuah tempat yang, kami kira, nyaman.

“Hei! Kau tahu apa yang kupikirkan sekarang ini?”, tanya dia.

“Tidak. Aku saja tidak tahu apa itu tadi.. Hm.. pikiran. Apa itu?”, balasku.

“Aku juga tidak tahu apa itu, aku hanya asal sebut dan itu sepertinya itu ada di bagian atasku. Baiklah, ada yang ingin aku katakan kepadamu.”

“Apa itu?”

“Aku ingin sekali keluar dari tempat ini. Aku tidak bisa berlama-lama menekuk bagian-bagian dari diriku ini. Tempat ini semakin sempit. Juga, aku merasa aneh. Sepertinya posisiku berlawanan dengan sesuatu.”

Bicaranya terhenti, ada sesuatu yang mengganggu kami. Kami menyebutnya suara. Beberapa waktu terakhir, suara ini terus saja kami dengar. Mengalun, menghentak keras, kadang membuat kami ingin bergerak, mempersempit ruang.

“Dengar? Ini juga yang membuatku tidak tahan. Aku tidak tahan! Kau tahu apa yang akan kulakukan sekarang ini?”

“Apa itu?”

Dia mengguncang tempat ini. Dia terus bergerak. Aku merasa tidak seimbang, dan benar katanya tadi, posisiku memang berlawanan dengan sesuatu. Tempat ini mendadak bergetar keras, seperti bergerak juga. Aku ikut menggerakkan bagian diriku, mengikutinya. Sejenak kami berhenti, tapi tempat ini terus bergerak dan bergetar keras.

Tiba-tiba seperti ada yang menghisapku. Bagian atasku merasakan sesuatu yang sejuk mengalir, sementara bagian bawahku terus mendesakku. Perasaan sejuk itu semakin besar, sebagian diriku terasa membesar. Aku diputar. Aku merasakan terang.

Aku bebas!

Sejenak, sayu terdengar, “Maaf, hanya satu yang selamat.”

***

Ini Cinta(?)

Kami sedang duduk di sebuah tangga di salah satu mall di utara Jakarta. Cukup sepi untuk sebuah mall di akhir pekan. Dia merangkul diriku, seolah mencari kesempatan karena sadar tidak ada yang memperhatikan. Aku tersenyum kepadanya. Sesekali dia melontarkan celotehan lucu dan menggariskan raut wajah yang membuatku sulit untuk menahan bahakan tawa ini.

“Aku sangat serius berhubungan dengan kamu. Aku ingin kita untuk selamanya. Aku tak ingin ada orang yang memisahkan kita. Bahkan setelah datangnya maut pun, aku mau terus berada di pelukanmu.”, dia kembali merangkulku. Hangat, itulah yang kurasakan. Hangat yang tidak pernah kurasakan dari wanita mana pun.

“Tapi, kamu sudah pasti menyadarinya kan? Dunia akan menolak cinta kita. Tak mungkin kita bersembunyi.”, kataku sambil melepas pelukannya. “Aku mau kita pergi saja ke luar negeri. Aku ingin kita menikah! Kita pergi dari keluarga dan sahabat kita. Kita bentuk cerita baru dalam kehidupan kita. Kita akan mempunyai anak dan berbahagia selamanya.”

Dia menghela napas sejenak, matanya menerawang ke bawah, seolah tak ada yang bisa diharapkan lagi dari atas. Bibirnya bergetar. Tak lama berucap, “Maukah engkau menikah denganku?”, sekejap dia bersujud di depanku.

Mataku berbinar. Tak dapat ku tahan lagi perasaan yang penuh dan meluap ini. Aku mengajaknya berdiri, langsung ku peluk dirinya. Aku menutup mata dan menciumnya. Ku rasakan setiap bulu halus di atas bibir kami saling bergesekan. Penisku menegang, begitu pula kurasakan dengan dirinya. Kami hampir larut dalam nafsu yang tak tertahankan.

Takut mencapai orgasme, kami membuka mata. Mall itu mendadak ramai dan penuh dengan raut wajah tegang.

***